Selasa, 05 Oktober 2010

JUVENILE DELINQUENCY (KENAKALAN REMAJA) DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA



1. Pengertian
Juvenile delinquency merupakan dua gabungan kata bahasa latin. Juvenile dari kata juvenilis yang berarti: anak muda, ciri karakteristik atau sifat khas pada orang muda atau periode remaja. Delinquent, dari kata delinquare yang berarti: terabaikan, mengabaikan; yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, a-sosial, kriminal, dan pelanggar aturan. Maka secara lebih luas juvenile delinquancy berarti: perilaku jahat/dursila, atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda (gejala sakit secara sosial). Dilain pihak, juvenile delinquency bisa diartikan sebagai tingkah laku melawan norma yang diperbuat oleh orang-orang yang belum dewasa.

2.  Sebab-sebab kenakalan remaja
Masa remaja adalah masa di mana ego mulai berperan yang menimbulkan krisis identitas dan berdampak pada munculnya berbagai macam permasalahan. Adapun sebab-sebab kenakalan remaja adalah sebagai berikut.

2.1. Lingkungan Keluarga
Keluarga menjadi tolok ukur orang menilai kepribadian dan keberadaan anak di luar lingkungan keluarga. Keluarga satu-satunya sebagai tempat didikan awal sebelum berlangkah ke institusi lain di luar keluarga. Berbagai problem yang menyangkut kenakalan remaja (juvenile delinquency) akhir-akhir ini tidak terlepas dari keterkaitannya dengan lingkungan keluarga.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku remaja oleh keluarga: Pertama, status ekonomi orang tua rendah, banyak penghuni/keluarga besar, rumah kotor, moralitasnya merupakan tanda tanya serta tidak mampu mengembangkan ketenangan emosional pada anak. Kedua, anak kurang mendapat kasih sayang, kurangnya pengawasan secara langsung dan tidak diasuh oleh orang tua kandung serta tidak ada persekutuan antara anggota keluarga. Ketiga, ada penolakan baik dari ibu maupun ayah atau broken home (karena kematian, perceraian, hukuman dan lain-lain)



2.2. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan satu-satunya tempat anak mendapatkan pendidikan secara formal yang dengan kesungguhannya melaksanankan tugas untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang diharapkan adalah membimbing anak didik menjadi warga negara pancasila yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, bermoral, berkesadaran masyarakat serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat.
Tetapi tidak jarang sekolah menjadi tempat yang turut memepengaruhi pola kenakalan remaja (juvenile delinquency) diantaranya: Pertama, sekolah yang selalu berusaha memanjakan anak-anak yang sebenarnya kurang mampu. Kedua, guru bersifat reject (menolak). Ketiga, sekolah menerapkan disiplin secara kaku, tanpa menghiraukan perasaan anak serta suasana sekolah yang buruk menimbulkan anak-anak suka membolos, malas belajar, melawan guru dan meninggalkan sekolah (droup out).

2.3. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah: keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya dan tersusun dari berbagai sistem dan subsistem salah satunya adalah keluarga. Dalam proses untuk membentuk seorang individu masyarakat mendapat peranan penting terutama dalam membentuk mentalitas hidup seorang anak. Ada beberapa hal yang terdapat dalam masyarakat kita yang mempengaruhi pola kehidupan remaja.
Pertama, sulit memperhatikan kepentingan anak dan melindungi hak anak khususnya berhadapan dengan berbagai perilaku kekerasan pada anak yang marak terjadi dewasa ini. Kedua, masyarakat kita sulit memberikan kesempatan bagi anak untuk melaksanakan kehidupan sosial, dan tidak mampu menyalurkan emosi anak secara sehat. Ketiga, perilaku masyarakat yang suka memilah-milah atau mengkategorikan masyarakat berdasarkan umur. Hal ini menjadikan para remaja seolah-olah tersisih dari suatu hubungan yang positif, bermakna, langgeng, dan mendalam dengan generasi yang lebih tua yang sebenarnya bisa membantu mereka dalam pertumbuhannya.
Itulah tiga unsur yang bila mempengaruhi remaja, maka mudahlah bagi remaja menjadi seorang delinquent. Apalagi ditambah dengan perkembangan tekhnologi seperti, TV, surat kabar, radio, bioskop, yang selalu memuji kejahatan sehingga sering anak-anak mencontohi kepahlawanannya dan kelihaianya yang unik.

3. Wujud Perilaku Delinquen
Dalam kondisi statis kenakalan remaja (juvenile delinquen) merupakan gejala sosial yang bisa diamati juga tidak bisa diamati tetapi bisa dirasakan aksesnya. Sedang dalam kondisi dinamis kenakalan remaja adalah gejala yang terus berkembang sejajar dengan perkembangan teknologi, industrialisasi dan urbanisasi.
Dewasa ini banyak hal yang meresahkan masyarakat akibat ulah para remaja baik itu dalam kondisi statis maupun dinamis. Seiring dengan perkembangan dan pencarian identitas keperibadian, banyak wujud dan perilaku delinquen yang dilakukan remaja baik yang diketahui ataupun yang tidak diketahui. Umumnya perbuatan remaja yang tidak diketahui selalu tidak terjerat hukum yang disebabkan oleh, kejahatan yang dianggap sepele, tidak pernah dilaporkan kepada yang berwajib karena segan dan malas berurusan dengan polisi dan pengadilan, serta takut akan adanya balas dendam.
Sementara itu wujud-wujud yang dapat diketahui dan terjerat hukum antara lain: Pertama,Kebut-kebutan di jalan, tawuran (antar sekolah, antar gang) yang kadang memakan korban, kriminalitas anak remaja (intimidasi, menjambret, menyerang, melakukan pembunuhan, dan lain-lain). Kedua, mabuk-mabukkan dan seks bebas, pemerkosaan, dan pembunuhan dengan motif seksual, yang disertai alasan misalnya, karena ditolak cintanya oleh wanita. Ketiga, penggunaan narkotika hingga berdampak kecanduan, perjudian dan taruhan lain yang mengakibatkan ekses kriminalitas.
Masih banyak tindakkan lain yang dilakukan oleh remaja baik itu karana pencarian identitas diri maupun karena karakter kejiwaan yang kurang stabil yamg turut memepengaruhi perkembangan hidup anak. Hal ini dipengaruhi oleh faktor keturunan, faktor pribadi anak serta situasi keluarga dan pendidikannya. Umumnya anak yang kenakalannya dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sering disebut delinquen neurotik.

4. Upaya Penanggulangan Juvenile Delinquency (Kenakalan Remaja)
Dewasa ini banyak upaya yang digalakkan untuk mengatasi kenakalan remaja. Meski tak semuanya serentak terselesaikan tetapi partisipasi dari berbagai kalangan dapat membantu untuk mengatasinya secara perlahan.

4.1.      Lingkungan Keluarga
Banyak orang mengatakan sikap anak adalah pencerminan sikap orang tua. Maka sangat diperlukan suatu sikap dari anggota keluarga terutama orang tua untuk menunjukkan sikap yang baik bagi anaknya. Pertama, mengurangi ketegangan dalam keluarga. Orang tua seharusnya menciptakan suasana gembira dengan membagi cinta kasih kepada anak secara merata. Kedua, memberikan motifasi kepada anak. Secara psikis anak butuh dukungan dari orang tua berupa motifasi dalam membangun diri anak sehingga mereka menyadari bahwa mereka diperhatikan.
Ketiga, memberikan pendidikan seksual kepada anak ketika menginjak usia remaja. Pendidikan seksual sangat perlu untuk anak pada usia remaja untuk mengantisipasi rasa ingin tahu yang tidak wajar. Karena pada masa ini remaja memepunyai rasa ingin tahu yang besar.  

4.2.   Lingkungan Sekolah
Ketika sekolah telah memutuskan untuk menerima anak yang didaftarkan oleh orang tuanya maka sekolah mesti bertanggung jawab terhadap pendidkan anak tersebut. Untuk membuktikan ini sekolah memperlihatkan prestasi anak lewat laporan tertulis dari sekolah. Sampai di sini kita dapat melihat bahwa ada hubungan yang erat antara sekolah dan keluarga untuk membentuk kepribadian anak yang berpendidikan.
Akan tetapi bukan itu saja yang dibutuhkan oleh sekolah untuk mendidik anak, sekolah juga berperanan membentuk moral anak. Ada beberapa hal yang mesti dilakukan untuk membina mental dan tingkah laku anak dalam keremajaannya.
Pertama, pendidikan nilai. Di sini anak perlu diajarkan dan dipekenalkan dengan berbagai bentuk nilai terutama nilai moral yang dapat membentuk tingkah laku anak. Selain itu diajarkan nilai lain seperti etika, estetika, dan lainnya yang juga secara perlahan membentuk perilaku anak. Kedua, membiasakan untuk mengadakan pertemuan antara guru dan murid. Yang ditekankan di sini adalah pertemuan dari hati ke hati. Murid dapat terbantu untuk mengatasi masalah khususnya yang menyangkut masalah pribadi.

4.3.       Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat juga turut berpengaruh dalam perkembangan perilaku remaja. Ada beberapa hal yang dianjurkan sebagai upaya untuk menanggulanginya. Pertama, penerimaan dan perlakuan masyarakat yang wajar. Hal ini ditunjukkan dengan memberikan kesempatan untuk memikul tanggung jawab demi kepentingan bersama dalam lingkungan masyarakat.
Kedua, menciptakan semangat kekeluargaan. Hal ini membuat remaja merasa diterima oleh kelompok yang terpenting seperti, sekolah, keluarga, dan prtemanan yang akrab. Ketiga, adanya kesadaran dari masyarakat khususnya pemimpin masyarakat baik format besar maupun kecil untuk memberikan contoh yang baik seperti kejujuran, ketekunan, dan hal-hal yang baik lainnya dalam perkembangan seorang remaja dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar